TRENDING NOW   :  
    beritanusantara.co.id   »   Daerah di Sulawesi Utara   »   Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara

    Mengintip Cara Kerja PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 Tompaso

    Donny Turang 27 December 2016, 06:20


    TOMPASO, beritanusantara.co.id � Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Unit 5 dan 6, dengan investasi sebesar USD282,07 juta ini diharapkan akan mampu menopang kebutuhan listrik masyarakat yang dilayani PT PLN (Persero) Wilayah Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo.

    PLTP milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) ini, menggunakan energi baru terbarukan (EBT), dengan kapasitas total 2x20 Mega Watt (MW).

    Cara kerja PLTP ini disebut sangat ramah lingkungan, bahkan bisa mengurangi emisi gas buang di udara. PLTP ini memanfaatkan sebanyak lima lima sumur dengan kedalaman dua sampai tiga kilometer dari permukaan tanah.

    Investasi PT PGE di unit 5 dan 6 ini, dilakukan hingga membangun pembangkit sendiri. Berbeda dengan PLTP Lahendong Unit 1-4, di mana PT PGE hanya menyalurkan uap kepada PT PLN, untuk kemudian membangkitkan listrik melalui pembangkit milik PT PLN.

    "Awalnya ada enam sumur dan satu tidak berhasil (dalam masa eksplorasi). Dari lima sumur itu produksi itu fluidanya 1.200 ton per jam dalam bentuk campuran uap dan air panas," kata Direktur Operasional PT PGE, Ali Mundakir di PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 Tompaso Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, Selasa 27 Desember 2016, usai peresmian oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

    Sementara itu, sebanyak 900 ton per jam fluida dalam bentuk air tersebut akan diinjeksikan kembali ke dalam perut bumi untuk diolah kembali menjadi uap penggerak turbin. "Secara alami akan kembali ke bumi dan akan berulang," tambahnya.

    Dari total 1,200 fluida ton per jam tersebut, akan dipisahkan sebanyak 900 ton per jam air panas untuk kembali diolah dan 300 ton per jam uap panas yang dihasilkan. Dan digunakan sebagai energi penggerak turbin yang nantinya akan menghasilkan listrik setelah melalui berbagai proses untuk masuk ke Trafo, dan nanti disalurkan ke Gardu Induk dengan daya sekitar 150 ribu kilo volt.

    "Uap lewat pipa dan langsung ke pembangkit listrik, turbin berputar disambung ke generator dan menghasilkan listrik," kata dia.

    Dengan adanya pembangkit ini, diyakini akan membuat udara menjadi lebih bersih, karena akan membuat emisi di udara akan semakin berkurang. Ia menyebut pengurangan emisi dari PLTP Lahendong unit 5 dan 6 bisa mencapai 150 ribu ton per tahun.

    Dijelaskan, dengan adanya tambahan dua unit PLTP ini, maka ada sebanyak enam PLTP yang beroperasi. Secara keseluruhan, yaitu ditambah dengan PLTP 1-4, maka ada sebanyak 120 MW daya yang dihasilkan dari PLTP Lahendong.

    "Kalau digabung (dengan unit 1-4) jadi 450 ribu. Ini kan sangat berarti," tutur dia

    PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 yang menggunakan skema total project (hingga menghasilkan listrik) tersebut telah menambah kapasitas pembangkit di Area Lahendong menjadi 120 Mega Watt dan memperkuat sistem ketenagalistrikan di Minahasa Sulawesi Utara, dengan tidak kurang 240.000 rumah tangga teraliri listrik. Selama pelaksanaan proyek menyerap tenaga kerja lokal tidak kurang dari 1.800 orang, dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 42,68 persen.

    Proyek-proyek tersebut meliputi PLTP Lahendong unit 5 dan 6 berkapasitas 2 x 20 MW di Tompaso, Sulawesi Utara. Proyek senilai USD 282,07 juta atau setara dengan Rp 3,3 triliun tersebut mulai dikerjakan sejak 5 Juli 2015 dengan target penyelesaian masing-masing Desember 2016 dan Juni 2017. Namun proses pengerjaan bisa lebih cepat menjadi 15 September 2016 atau lebih cepat tiga bulan untuk unit 5 dan 9 Desember atau lebih cepat enam bulan untuk unit 6.

    "Presiden Joko Widodo telah memimpin pelaksanaan ground breaking ketiga proyek PLTP tersebut di Kamojang 15 Juli 2015 lalu dan hari ini beliau memimpin langsung peresmian pengoperasian ketiganya. Pertamina selaku induk usaha Pertamina Geothermal Energy memberikan apresiasi kepada seluruh pekerja PGE yang berhasil membuktikan kompetensi utamanya dengan menyelesaikan proyek lebih cepat dari jadwal sehingga lebih cepat dapat membantu pemerintah dalam upaya memperluas layanan listrik untuk masyarakat," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di Tompaso Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, Selasa 27 Desember 2016.

    Proyek selanjutnya adalah PLTP Ulubelu unit 3 dengan kapasitas 1 x 55 MW dan investasi USD 250 juta yang setara dengan Rp 2,8 triliun. Juga dengan skema total project, PLTP Ulubelu unit 3 ini mulai dikerjakan pada 5 Juli 2015 dengan target selesai Agustus 2016, namun berhasil masuk ke dalam sistem pada 26 Juli 2016 atau lebih cepat satu bulan. Proyek yang berlokasi di Tanggamus, Lampung ini telah menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 orang, dengan TKDN mencapai 50,89 persen.

    Mantan bos Semen Indonesia ini menambahkan, proyek-proyek infrastruktur energi yang dibangun Pertamina diharapkan dapat memberikan efek berganda terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Mulai dari teralirinya listrik, terbukanya lapangan kerja selama pelaksanaan proyek dan juga pasca proyek sebagai dampak dari tumbuhnya industri baru. Alasannya, karena pasokan listrik yang lebih kuat serta mendorong pemanfaatan energi bersih yang mampu mendorong penurunan emisi CO2.

    "Proyek-proyek yang diresmikan hari ini total nilainya USD 532,07 juta atau setara dengan Rp 6,18 triliun dari total Rp 26 triliun yang dianggarkan Pertamina untuk proyek yang sedang berjalan sampai dengan 2020," kata dia.

    Melalui PGE, Pertamina menargetkan penambahan kapasitas pembangkitan panas bumi sebesar 1.037 MW pada 2021. Selain ketiga proyek yang diresmikan hari ini, Pertamina juga memaparkan progres proyek-proyek PLTP lainnya yang di ground breaking oleh Presiden pada 5 Juli 2015, antara lain Karaha Unit 1 dengan kapasitas 1x55 MW yang saat ini sudah mencapai 91 persen, atau akan selesai pada Mei 2017. Kemudian Lumut Balai Unit 1 & 2 berkapasitas 2x55 MW dengan progress proyek mencapai 71 persen. Sementara proyek Hululais 1 berkapasitas 1x55 MW dan Kerinci Unit 1 kapasitas 1x55 MW di mana masing-masing proyek telah berjalan 67 dan 43 persen.

    Sejumlah menteri dan direktur utama BUMN hadir dalam peresmian ini. Sebut saja Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Direktur PT PLN (Persero) Sofyan Basir, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto, Direktur Utama PGE Irfan Zainuddin, Direktur Utama Bank BRI Asmawi Syam, Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo dan Direktur Utama Bank BTN Maryono.

    Khusus yang akan diresmikan Presiden Jokowi adalah Blok Tompaso yang terbagi dalam dua unit yakni unit 5 dan unit 6. Untuk unit 5, PLTP tersebut sudah Commercial Operation Date (COD) pada 15 September lalu. Sementara unit 6, proyek ini mampu COD lebih dini dari yang ditargetkan pada Juli 2017 mendatang. Kedua proyek tersebut nantinya akan memberi tambahan kapasitas sebesar 2 x 20 MW.

    Di wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong sendiri terbagi kedalam dua blok, yaitu Blok Lahendong Existing yang terletak dalam Wilayah Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa dan Blok Tompaso dengan luas 28 km persegi yang terletak dalam Wilayah Kabupaten Minahasa Induk.

    Total project sendiri merupakan proyek yang pada tahap eksplorasi dan pengembangan lapangan uap hingga pembangunan dan pengoperasian PLTP untuk kemudian listriknya dijual kepada PT PLN (Persero) dan didistribusikan kepada masyarakat.

    Untuk investasinya, proyek ini menghabiskan anggaran sebesar USD 282,07 juta atau setara Rp 6,18 triliun. Pendanaan tersebut menggunakan skema Subsidiary Loan Agreement (SLA) atau pinjaman dari pihak luar yang salah satunya Bank Dunia.

    PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 merupakan yang murni dimiliki oleh PGE dari total 6 PLTP di WKP Lahendong. Sementara PLTP Unit 1 - 4 dimiliki oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

    Selain itu, PLTP di Tompaso ini merupakan total project keempat dan kelima milik PGE. Sebelumnya, perseroan telah memiliki PLTP Kamojang Unit-4, Kamojang Unit-5, dan Ulubelu Unit-3.

    "(Pendanaan) Ini sebagian dari World Bank kita soft loan dari World Bank. Jadi ada dua, pertama dari corporate loan dan kedua dari World Bank. Untuk 5 dan 6 sekitar USD 282 juta dari up stream dan down stream. Kalau World Bank hanya di PLTP-nya saja," ujar Direktur Utama PGE, Irfan Zainuddin di Tompaso Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, Selasa 27 Desember 2016.

    "Jadi Lahendong ini akan sangat mensupport kegiatan pariwisata dengan energi bersihnya. Kegiatan pariwisata kalau di support dengan panas bumi akan sangat relevan dengan kegiatan pariwisata itu sendiri," kata dia.

    Tidak hanya untuk melistriki rumah tangga di wilayah sekitar, PLTP ini kedepannya akan diproyeksikan untuk mensupport kegiatan pariwisata di Minahasa. Menurutnya, hal ini akan sejalan dengan pengoptimalan potensi panas bumi yang melimpah.

    "Proyek ini tentunya akan menjadi percontohan untuk proyek lainnya yang akan segera dikembangkan. Karena kita bisa menyelesaikannya lebih cepat dari target," pungkasnya.

    Ditempat yang sama, Direktur Operasional PGE, Ali Mundakir mengatakan, proyek ini nantinya akan menjadi percontohan untuk pengembangan PLTP lainnya. Sebab, kedua proyek ini mampu diselesaikan lebih cepat dari yang ditargetkan. (donny/rifanfinancindo)



    Berita Terkini

    20 April 2017

    Advertorial